Seputarkalsel.com, KALSEL – Upaya memperluas pasar ekspor dari Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak lagi hanya bertumpu pada sektor tambang.
Pemerintah daerah kini mendorong berbagai komoditas non-tambang, terutama produk perikanan segar, untuk menembus pasar internasional yang dinilai memiliki permintaan cukup tinggi.
Melalui Dinas Perdagangan (Disdag) Kalsel, pemerintah daerah terus mengajak pelaku usaha dan UMKM memanfaatkan peluang ekspor yang semakin terbuka, khususnya ke negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Kepala Disdag Kalsel, Ahmad Bagiawan, mengatakan bahwa selain sektor pertambangan, Kalsel memiliki sejumlah komoditas lain yang berpotensi besar untuk dikembangkan di pasar global.
Ia menyebutkan, pemerintah daerah saat ini mendorong sedikitnya tujuh komoditas unggulan agar dapat berkembang dan memiliki daya saing di pasar ekspor.
“Kita memiliki beberapa komoditas ekspor selain sektor tambang. Total ada sekitar tujuh komoditas yang terus kita dorong untuk berkembang, termasuk yang dihasilkan oleh pelaku usaha dan UMKM,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Salah satu sektor yang mulai menunjukkan potensi kuat adalah komoditas perikanan segar.
Produk seperti ikan, udang, kepiting, hingga cumi-cumi kini mulai dilirik untuk dipasarkan ke luar negeri, terutama ke Malaysia.
Menurutnya, meningkatnya akses transportasi udara menjadi faktor penting yang mendukung peluang ekspor komoditas tersebut.
“Dengan adanya penerbangan langsung ke Malaysia, peluang ekspor produk segar ini semakin terbuka,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa jalur pengiriman melalui udara sangat menguntungkan bagi komoditas perikanan karena dapat menjaga kualitas produk hingga tiba di negara tujuan.
Selain faktor logistik, perbedaan harga antara pasar domestik dan pasar luar negeri juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku usaha untuk mulai mengekspor produknya.
Sebagai contoh, Ahmad menyebut harga belut di pasar lokal berkisar sekitar Rp50 ribu per kilogram, sedangkan di Malaysia dapat mencapai sekitar 50 ringgit per kilogram.
“Kalau dikonversikan, nilainya bisa sekitar empat kali lipat. Ini tentu menjadi peluang ekonomi yang cukup besar bagi pelaku usaha,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa aktivitas ekspor komoditas perikanan dari Kalsel sebenarnya sudah mulai berjalan.
Dimana dilakukan secara mandiri oleh para pelaku usaha yang melihat peluang keuntungan dari perdagangan lintas negara.
Menurutnya, pemerintah lebih banyak berperan dalam memfasilitasi aspek administrasi, seperti membantu penerbitan dokumen ekspor yang dibutuhkan.
“Kami membantu dari sisi administrasi seperti dokumen ekspor, sementara pelaku usaha melihat peluang pasar dan menjalankan usahanya,” pungkasnya. (MC Kalsel)

















