banner 728x250

Banjarmasin Cari Motif Sasirangan Terbaik di Usia ke-500 Tahun

Pemerintah Kota Banjarmasin menggelar Lomba Desain Motif Sasirangan sebagai upaya melestarikan budaya khas Banjar di usia ke-500 Kota Banjarmasin
banner 120x600
banner 468x60
Seputarkalsel.com, BANJARMASIN – Kain sasirangan kembali menjadi perhatian dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin. Melalui Lomba Desain Motif Sasirangan (LDMS) 2026, Pemerintah Kota Banjarmasin berupaya mendorong lahirnya inovasi baru tanpa meninggalkan nilai budaya khas Banjar. Kegiatan yang digelar Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Banjarmasin di Aula Rumah Kemasan Disperdagin, Minggu (17/5/2026), diikuti para pengrajin dan desainer sasirangan dari berbagai kalangan. Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR, bersama Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin, Neli Listriani, membuka langsung kegiatan tersebut. Hadir pula Plt Kepala Disperdagin Kota Banjarmasin, Noorsyahdi, serta para dewan juri yang terdiri dari budayawan dan desainer. Mengangkat tema “Melestarikan Budaya Maharagu Warisan Sasirangan di 500 Tahun Banjarmasin Maju Sejahtera”, para peserta menampilkan beragam motif sasirangan dengan sentuhan kreativitas modern yang tetap mengacu pada motif dasar sasirangan Banjar. Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin, Neli Listriani, mengatakan lomba tahun ini dibuat lebih menarik dengan menghadirkan dua kategori perlombaan, yakni reguler dan best of the best. “Kalau sebelumnya biasanya hanya reguler saja, sekarang ada best of the best karena sudah banyak pemenang juara utama tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya. Ia menjelaskan kategori best of the best menjadi ajang bagi para juara terdahulu untuk kembali menunjukkan kemampuan mereka dalam menciptakan motif sasirangan terbaik. “Jadi pada momentum 500 tahun ini, sesama pemenang kami lombakan kembali untuk mencari motif yang memang terbaik dari yang terbaik,” katanya. Menurut Neli, usia 500 tahun Kota Banjarmasin harus menjadi momentum untuk menghadirkan karya sasirangan yang lebih berkembang, namun tetap mempertahankan identitas budaya Banjar. “500 tahun bukan perjalanan yang singkat tentunya. Kami ingin memiliki motif yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, namun tetap tidak meninggalkan budaya asal munculnya sasirangan,” jelasnya. Selain memberi ruang bagi para juara lama, lomba reguler juga dibuka untuk mendorong lahirnya pengrajin-pengrajin baru yang kreatif dan inovatif. “Untuk reguler, pengrajin-pengrajin baru bisa ikut berpartisipasi. Jadi kami berharap akan muncul karya-karya baru melalui lomba ini,” tambahnya. Dalam penilaian, peserta tidak hanya dinilai dari sisi visual desain, tetapi juga pemahaman terhadap filosofi motif sasirangan yang dibuat. Para peserta diminta menjelaskan makna warna, motif, hingga konsep budaya yang diangkat dalam karya mereka. “Kami mengundang budayawan, ahli sejarah, dan desainer sebagai dewan juri. Pengrajin juga harus bisa menjelaskan filosofi kain yang dibuat,” tuturnya. Neli menambahkan, sasirangan memiliki nilai sejarah yang kuat karena dulunya hanya digunakan di lingkungan kesultanan dan dipercaya sebagai bagian dari tradisi pengobatan masyarakat Banjar. “Sekarang semua masyarakat bisa menggunakan sasirangan, tetapi jangan sampai meninggalkan motif dasar dan nilai budayanya,” pungkasnya.
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *